Minggu, 08 Januari 2012

PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

Pembangunan sebagai sebuah tindakan yang terus menerus hendaklah dilaksanan dengan berpedoman pada perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Ini dilakukan untuk menghindari pembangunan yang tidak tepat sasaran dan tidak tepat tujuan. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian dalam menentukan skala prioritas pebangunan yang jelas. Skala prioritas ini penting di pikirkan sebab akan menjadi pedoman dalam menyusun kerangka kerja pemerencanan pembangunan baik yang sifatnya jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Dalam sebuah jurnal pembangunan, Joseph E. Stiglitz mengemukakan ada 5 hal yang patut dijadikan sebagai prioritas utama dalam strategi pembangunan yakni :
1. Pendidikan (Education)
2. Infrastruktur (Sarana dan Prasarana khususnya komunikasi maupun transportasi)
3. Kesehatan (Health)
4. Pengetahuan (Knowledge)
5. Kemampuan untuk membangun (Capacity Building)
Kalau kita merujuk pada kondisi kekinian dan kedisinian sebagai sebuah Negara tentu hal tersebut diatas adalah merupakan dasar utama dari prioritas pembangunan itu sendiri. Namun, ada yang terlupakan oleh stiglitz dalam konsepnya tersebut yakni :
1. Pengurangan Jumlah Kemiskinan
2. Keberlangsungan Lingkungan
3. Pengurangan Pengangguran
Ketiga hal tersebut diatas seharusnya ditambahkan sebagai prioritas utama pembangunan karena inilah hal yang paling mendasar dari kehidupan manusia itu sendiri.
1. Pengurangan Jumlah Kemiskinan
Todaro dan Smith dalam buku Pembangunan Ekonomi melansir target utama daripada Millenium Development Goals yang diprakarsai oleh 189 negara pada tahun 2000 yakni mengentaskan kemiskinan dan kelaparan absolute. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang pendidikan, insfraktruktur, kesehatan dll jika masih banyak diantara masyarakat yang menderita kemiskinan dan kelaparan absolute. Bahkan kemiskinan, bukan hanya di negara-negara terbelakang dan negara berkembang, dinegara majupun ini setali tiga uang. Ini perlu menjadi prioritas utama karena kemiskinan absolute akan berakibat pada rendahnya produktifitas bahkan malah menjadi beban bagi anggaran belanja pembangunan di negara bersangkutan dalam bentuk subsidi. Olehnya itu, peran pemerintah dalam melihat aspek ini sebagai hal yang paling utama dalam perencanaan pembangunan patut diapresiasi dan didukung.
2. Keberlangsungan Lingkungan
Dalam sebuah tulisan Tjokrowinoto 1996:28 dan 1998:19 dalam Tatag Wiranto dan Antonius Tarigan dikemukakan bahwa pendekatan pembangunan berorientasi pertumbuhan yang selama ini menjadi “credo” negara-negara berkembang dalam mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara kapitalis maju, atau yang lebih dikenal dengan paradigma pertumbuhan telah membawa perubahan penting. Disamping berbagai prestasi yang berhasil dicapainya, terdapat sederetan persoalan pelik yang turut memperburuk citra pembangunan dengan orientasi pertumbuhan tadi. Diantaranya adalah semakin panjangnya barisan kemiskinan, meningktanya pengangguran, semakin beratnya beban hutag luar negeri yang harus ditanggung, masifikasi, undimendionalisasi, degradasi kualitas lingkungan hidup secara terus menerus, proses dehumanisasi tersamar yang nyaris tak terkontrol dan masih banyak lagi.
Dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa kadangkala sebuah pemerintahan atas nama “pertumbuhan” terlebih bagi mereka yang menghuni Negara-negara yang memiliki sumber daya alam yang besar akan mengeksploitasi segala sumber dayanya untuk mendapatkan output yang sebesa-besarnya. Padahal, implikasi terbesar jika hal ini terus dilakukan akan bermuara juga pada penghancuran alam yang ujung-ujungnya juga menyengsarakan manusia yang hidup didalamnya. Olehnya itu, perencanaan pembangunan yang berbasis lingkungan perlu terus digalakkan dan didukung sehingga keberlangsungan hidup manusia tetap dapat dipertahankan. Dalam beberapa tulisan Stiglitz hal ini jarang di sampaikan secara tersirat maupun tersurat.
3. Pengurangan Pengangguran
Case dan Fair dalam bukunya Prinsip-prinsip ekonomi membagi tiga jenis pengangguran yakni :
a. Pengangguran friksional yakni porsi pengangguran karena mekanisme normal pasar tenaga kerja; digunakan untuk menunjukkan masalah penyesuaian kerja/keahlian jangka pendek.
b. Pengangguran structural yakni porsi pengangguran karena perubahan struktur perekonomian yang disebabkan oleh hilangnya pekerjaan secara signifikan dalam industry tertentu.
c. Pengangguran siklis yakni peningkatan pengangguran yang terjadi pada saat adanya resesi dan depresi.
Ketiga jenis pengangguran diatas adalah jamak terjadi dihampir semua negara. Ini penting diperhatikan dalam perencanaan pembangunan sehingga terbuka lapangan kerja baru bagi mereka yang menganggur. Bahkan dinegara kitapun, jumlah pengangguran masih demikian tinggi ditambah lagi dengan kebijakan ekonomi terbuka yang kita anut dengan masuknya barang-barang impor dari berbagai negera di Asean dan China sehingga membuat industri dalam negeri banyak yang gulung tikar. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin banyak. Olehnya itu, perlu perhatian utama pemerintah dalam menanggulangi hal ini dalam bentuk perencanaan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.
Daftar Pustaka:
1. Joseph E. Stiglitz, 1998, Towards a New Paradigma for Development : Strategies, Policies and Process. Jurnal;
2. Case & Fair, 2007, Prinsip-prinsip Ekonomi (sebuah terjemahan), Penerbit Airlangga;
3. Todaro & Smith, 2006, Pembangunan Ekonomi (sebuah terjemahan, Penerbit Airlangga.
4. Tatag Wiranto & Antonius Tarigan, Kemitraan Bagi Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL) sebuah tulisan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar